SMAN 1 Nguntoronadi

Barong..an?


Cerpen berjudul Barong..an? Karya Isnadiah Youwanda Wardani kelas XII MIPA.

Selamat membaca.


SUDAH SEPULUH kali aku mengucap maaf, tapi anak ini tak segera menerima ataupun menolak permintaan maafku, dia masih sibuk dengan dua topeng raksasa seukuran kepala singanya yang terguling dan kotor terkena tanah.

“Dik, bisakah aku membantumu?” ucapku lagi. Bocah ini masih saja bergeming. Jemari pendek dan kotornya itu terus menyisiri rambut topeng yang miripㅡatau memang benar-benarㅡkepala singa yang kini berada di pangkuannya. Dirinya tak berhenti merutuki dirinya sendiri. Puas melakukan hal itu, dia pun menoleh ke arahku, tatapannya juga mengatakan, Ini juga salahmu, Non, sembari memancarkan aura kelam. Oke, empat kata yang terakhir tak perlu dihiraukan.

Tak mendapat respons positif, kuputuskan saja untuk pergi dari sana karena pertunjukan barongsai di alun-alun akan segera dimulai. Ya, kalian benar soal aku sedang berangkat menuju ke sana. Dan, ya, kalian benar lagi tentang aku menabrak bocah ini ketika berada di perjalanan. Wah, benar-benar tak bisa diandalkan.

“Maaf, ya, Dik! Ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?” tanyaku baik-baik, mengulang suasana sepuluh menit yang lalu. Bocah ini pun mulai menangis, namun hanya sebatas menitikkan, …tidak, tidak. Dia sungguhan membanjirkan air mata.

Aku pun jongkok untuk menyejajari tubuhnya, bilang kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja karena itu bukan salahnya sepenuhnya. Namun dia masih saja banjir air mata.

“Sudah, Dik, sudah. Begini saja, deh! Kau pasti sangat ketakutan karena telah menjatuhkan benda ini …”ㅡkupandangi topeng-topeng besar itu, dia pun dengan segera tanggap mengatakan, “Singa Barong. Ini topeng Singa Barong.”

“Iya, itu, deh, pokoknya. Pokoknya kau jangan panik. Sekarang, bersihkan matamu dulu, lalu kuantar kau keㅡ”

Aku sadar akan perkataanku. Mungkin jika aku berkaca, aku dapat memahami ekspresi wajahku sendiri tanpa harus bertanya. Sial! Mulut sial! Dari semua bantuan yang dapat kutawarkan, kenapa yang keluar malah yang itu?

“Benar, Kak? Benarkah?” katanya, matanya kelewat berbinar sampai aku … Ya, Tuhan. Beri aku kamus darurat untuk berkata-kata!

Omong-omong, dia pun melanjutkan lagi dengan hati-hati, “Bantu aku, ya, Kak!”

Dia memintaku untuk membantunya! Tidak banyak waktu yang tersisa untuk diriku berjalan ke alun-alun. Tinggal setengah jam lagi! Jika tidak segera pergi, aku akan benar-benar ketinggalan delman, satu-satunya kendaraan agar bisa sampai ke alun-alun dalam waktu yang singkat. Iya, alun-alun tempat pertunjukan barongsai diadakan! Bisakah aku menjelaskan sekali saja?!

Oke, tenang. Kendalikan. Tahan.  

Bocah ini pun mengelap matanya dengan kain legan kausnya, berdiri, lalu tanpa basa-basi memberikan topeng yang satunya lagi kepadaku. Sudahkah tadi kubilang kalau topengnya ada dua? Sudah, kok. Kalian saja yang tak menyimak!

Oke, tenang. Kendalikan. Tahan.

 “Lho, aku, ‘kan, belum menyetujuinya!” kataku setengah melengking. Alih-alih memedulikan perkataanku, dia malah mengangkat topeng yang lain dan berjalan dahulu ke depanㅡnamun tak searah dengan tujuanku. Makin dibingungkan dan tak memahami situasinya, aku pun menuntut penjelasan kepadanya dengan ikut berjalan di belakangnya.

“Kak, agak cepat, dong! Acaranya sudah mau mulai, nih!” katanya tanpa menoleh padaku. Langkahnya setengah kali lebih kecil dari langkahku, namun dia bagaikan tersambar petir hingga jalannya saja sudah menyerupai ayam betina dikejar ayam jago.

“Dik, kita mau ke mana, sih!” kataku sekali lagi dan untuk kesekian kali lagi juga dia tak menjawab. Langkah kakinya makin lebar, lalu tak tahu sejak kapan dia jadi berlari. “Dik! Adik! Ih, kampret, acaranya udah mau mulai!”

Aku berhenti sebentar, sekilas berpikir untuk melempar topeng seram ini dari lenganku lalu pergi begitu saja tanpa harus berpamitan dengannya. Tak masalah bila dia marah padaku, toh aku nggak akan selamanya di Blora dan kemungkinan kami bertemu lagi sangat kecil. Bingo! Aku akan melakukannya!

“Aduh!”

Eh? Ada apa dengan bocah itu? Kenapa dia jatuh?

Seketika itu juga rencanaku buyar dengan apa yang baru saja terjadi. Kulihat anak itu tersungkur dan entah sejak kapan jadi telentang di jalan setapak. “Kamu ngapain, sih, Dik? Senang amat tiduran di jalan! Ayo bangun atau kujatuhkan topeng ini dan kutinggal kamu sendirianㅡ”

“Jangan! Jangan dijatuhkan! Aku membawanya susah payah dari rumah Pak Sumiran! Pokoknya jangan dibuang, Kak! Antarkan aku ke sana sekarang, nanti kuantar sampai tempat Barongan Sayap itu!”

“Barongsai, kalik! Ya sudah, cepat kalau mau membantuku juga! Tapi janji jangan lari-larian lagi, kalau ngeyel, aku mandiin topengmu pakai pasir!”

Dia mengangguk dengan patuh, lalu kami pun berjalan bersandingan. Kulihat parasnya dari sudut mataku.

Tingginya tak lebih dari bahuku. Wajah, kulit, rambut, bahkan bajunya pun kusam. Tapi dia tidak bau, tampangnya yang kotor mungkin saja adalah akibat dari perlakuan heroik khusus dirinya terhadap si topeng yang ia dewa-dewakan tadi. Apa namanya … ah, Kepala-Singa-Gadungan-Super-Besar. Dan sejauh aku mengamatinya, sepertinya dia anak yang baikㅡmaksudku, dia penurut dan … yah, pokoknya tidak terlihat bandel.

Lama aku terdiam, mungkin setara dengan tiga puluhan langkah kaki berjalan biasa.

“Siapa namamu, Dik?”

“Arian Pratama, Kak. Temanku memanggilkuaku Rian. Kalau Kakak sendiri?”

“Gendhis, panggil Gendhis aja!”

Rian menaikkan kedua alisnya dan memancarkan ekspresi, Oooo, aku tahu.

“Omong-omong!” katanya sambih terkikik, senyumnya sanagt lebar sampai-sampai matanya terkubur pipinya sendiri. “Kak Gendhis cantik!”

“Apaan, sih, Yan. Kecil-kecil sudah genit!”

Rian lalu terkekeh-kekeh sendiri, dia membenarkan caranya membawa si topeng. “Yan, ini mau dibawa ke mana, sih?”

“Lah, Kak Gendhis itu bagaimana, sih?Kan, aku sudah bilang tadi kalau mau dibawa ke ke Balai Desa!”

“Belum! Kau belum bilang, kok! Kau tadi tiba-tiba menyodorkannya kepadaku dan hanya bilang ini berasal dari rumahnya Pak Sumiran! Ingat, nggak?”

“Eh, iya. Aku lupa.Itu, Singa Barong ini mau kubawa ke Balai Desa. Ehe he he, ayam sosore meri! Em syori!” katanya sambil terkekeh lagi.

“Bocah edan,” gumamku. Aku melihat-lihat lagi topeng ini, kuingat-ingat lagi namanya yang mirip Barongsai itu. Apa, ya, ba … rong?

Ya, ini topeng Barong.

“Buat acara apa, Yan?” tanyaku.

“Pertunjukan biasa, Kak. Kakak nggak pernah lihat, ya?”

Jawabanku pastinya kentara sekali bagi Rian dengan aku melihat si topeng Singa Barong ini.

“Oh, jadi sudah pernah, ya.”

“Eh, belum! Aku belum pernah!”

Ah, dia ternyata belum tahu, ya. Dasar nggak peka.

Rian pun bertanya lagi, “Kakak orang mana, sih?”

Aku berhasil dipukul telak. Walau dia sungguh luar biasa telmi, tapi bocah ini sungguh lebih mahir berbicara daripada diriku. Aku merasa kalah.

“Orang … ya, orang sini. Tapi aku tinggal di Jakarta setidaknya sejak umurku dua-tiga tahunan.” Aku diam sebentar, lalu melanjutkan, “Bapakku asli Blora, Ibuku orang Betawi. Aku kemarin diajak ke sini buat silaturahim dengan saudara-saudara sama, yah … melawat eyangku,” jawabku.

Rian mengangguk dengan saksama. Tiba-tiba saja dia menjadi tertarik dengan topeng yang digendongnya. Kami pun terdiam untuk waktu yang agak lama.

“Nanti, nonton penampilanku, ya! Sebentar saja! Aku nanti ikutan main gamelannya, lho, Kak!”

“Idih, nggak mau! Mendingan aku nonton barongsai di alun-alun! Ramai! Banyak jajanan lagi!” ucapku dengan bangga, sambil tertawa sekalian. Dan segera saja kusadari, itu tadi mungkin membuat Rian kecewa.

Aku berharap Rian merajuk, menghukumku untuk membawa dua topeng sekaligus dengan tanganku atau melakukan hal lain. Aku merasa lebih baik diperlakukan seperti itu, namun dia hanya mengangguk menyetujuinya.

Aku merasa tak enak hati dan salah tingkah juga. Rian juga tak mengatakan apa pun lagi hingga kami sampai di tempat yang Rian maksud. Kami pun masuk ke Balai Desa. Di sana ada banyak orang, semuanya sedang bersiap-siap dengan kostumnya masing-masing.

Setidaknya ada lima orang penari jaranan, selusin penata rias, satu orang manusia bertopeng Singa Barong, dan dua orang pemuda lagi yang hanya berkaus putih dan bercelana hitam. Menurut perkiraanku, sepertinya mereka adalah orang-orang yang menunggu datangnya Rian dan topeng-topeng ini.

Mereka sudah terlihat cukup akrab ditinjau dari cara mereka memberi sapaan dan au juga cukup tahu etika untuk tak menginterupsinya.

Belum seleai terkekeh-kekeh bersama kawannya, Rian pun memberikan topengnya ke salah satu pemuda, lalu meminta topeng yang kubawa untuk diberikannya ke pemuda yang satunya lagi.

“Semangat, Bro! Dak dukung kowe! Nek kowe ora tenanan, ooh, dak uncali thuthukku saka mburi kowe mengko!

“Bro, aku punya kakak baru! Ke sini! Ini namanya Kak Gendhis! `En Kak Gendhis Gula Jawa, mereka teman-temanku, Sapta sama Bayu,” kata Rian. Aku tersenyum-senyum. Walau sangat canggung berada di situasi di mana aku tak tahu harus bagaimana, namun aku senang mengetahui kalau Rian tak marah padaku.

Wis, Yan. Aja sok-sokan nganggo basa Endonesa-Endonesanan! Ora patut blas! Medhokmu ‘ra ketulungan, Bro!” kata Sapta, atau mungkin Bayu. Entahlah, aku tak tahu. Tapi Rian menyengir saja, masih merasa bangga pada apa yang telah ia lakukan.

“Ya,sudah! Sana kalian siap-siap! Kak Gendhis, ayo ke sini!” ajak Rian padaku, dia menunjuk pada selusin kursi kosong yang terjajar acak-acakan di sisi lain dari tempat ini, lalu kami pun pergi ke sana.

Kami pun duduk.

Kami diam sesaat, lalu aku pun memulai percakapan. “Rian, kamu masih marahkah sama Kak Gendhis? Dari tadi, kok, diam saja?”

“Nggak, kok, Kak. Sumpah! Apakah aku kelihatan melas?”

“Bohong.”

“Eng … nggak.”

Dia memalingkan wajahnya. Menunduk.

“Iya, sih. Tapi sedikit.”

Rasanya, sebuah lubang baru tercipta di rongga dadaku, ngilu sekali rasanya.

“Aku sudah lama nggak dilihat sama Bapak Ibu semenjak ditinggal ke Jakarta. Beliau-beliauㅡ”

“Mereka,” koreksiku.

“Iya, maksudku itu. Mereka sudah jarang menonton pertunjukanku. Padahal, ‘kan, sayang kalau budaya Blora ini ngga diuri-uri. Bisa hilang dari muka bumi nantinya, tergilas budaya orang luar.”

Bagus, Yan, bagus. Kau membuat anak kuliahan macam aku ini terlihat tak lebih baik dari remahan rempeyek di depanmu. Kucari penghibur diri dengan mencari siapa pun di sekitarku untuk kusalahkan. Namun, tak ada. Perkataan Rian sepenuhnya untukku.

Wajahku mungkin semerah rasanya.

“Sudah, ya, Kak. Ayo kuantar ke alun-alun. Aku benar, ‘kan, kalau cuma sebentar?” ujar Rian padaku, menatapku dengan sorot kecewa barangkali.

Aku diam saja sambil menatap Rian. “Ayo, Kak. Cepat! Aku juga mau cepat-cepat ganti baju ini!”

Aku kehabisan akal, lalu aku pun berdiri. Ribuan pilihan berkecamuk di kepalaku.

Rian hendak bangkit. Tubuhnya kecil sekali sehingga menggugahku untuk meraup tangan kanannya dan membantunya bangkit.

“Mau kuantar, Dik?” kataku, sambil tersenyum ke arahnya.

“Lah, bukannya, Kak Gendhis mau nonton Barongsai? Cepat berangkat! Acarabarongsai-nya sudah mau mulai!”

Sedetik kemudian, kutimang lagi pertanyaan itu. Kutatap mata sayu Rian, bias harapan untuk aku ikut dengannya menguar hebat dari sana, kontras sekali dengan apa yang ia katakan. Aku mengembuskan napas panjang. Berharap aku telah memilih sesuatu yang benar untuk dilakukan. “Kak?”

Senyumku mengembang, lalu tanpa rasa gamang kukatakan sambil tak melepas pandang pada mata Rian, “Nggak jadi, ah. Aku ikut kamu nonton Barongan saja!”

Rian membelalakkan matanya, lalu berjinjit untuk meraup leherku. Dalam sepersekian detik, aku sudah harus kepayahan merunduk untuk menyamakan tinggiku dengan tinggi Rian yang memelukku dengan paksa. Sorakan-sorakan dan siulan menggoda saling bersahutan, namun aku tak peduli. Aku balik memeluk Rian yang sudah kelewat senang untuk sekadar berujar terima kasih padaku.

Sorakan makin menggila dan aku juga belum berhenti tersenyum.

“Terima kasih kembali juga, Yan.”

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas