SMAN 1 Nguntoronadi

Berani Ambil Resiko Itu Baik

Hai Guys. Perkenalkan, saya Ikhsan Abdul Latif. Guru Matematika SMAN 1 Nguntoronadi. Kali ini, saya mau share sebagian kecil pengalaman hidup saya yaitu tentang kenapa sih saya pilih jurusan Matematika.

Matematika bagi mayoritas orang sering dianggap sebagai ilmu hitung. Saya pun dulu juga menganggap begitu. Tapi ternyata saya salah besar.

Flashback 15 tahun lalu. Saya bukan tidak suka mata pelajaran Matematika, saya cuma merasa ga bisa Matematika. Diajari berkali-kalipun saya sering gagal paham. Akibatnya, nilai Ujian Nasional Matematika saya saat SMA cuma 3,5. Nilai yang hampir menyebabkan saya ga lulus SMA. Kira-kira 1 atau 2 soal lagi kalau saya salah, pasti ga lulus. Dari situ saya mikir, apa sih sebenarnya yang salah dari saya?

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya berani ambil resiko dan memutuskan untuk kuliah di jurusan Pendidikan Matematika. Jurusan yang notabene saya ga paham ilmunya. Jurusan yang punya probabilitas tinggi dalam hal saya ga lulus. Tapi, prinsip saya, Belajar itu menyelami hal-hal yang belum dikuasai, kalau hal yang sudah dikuasai, namanya bukan belajar.

Akhirnya tahun 2010 saya mulai kuliah di salah satu universitas di Surakarta. Kuliah yang sangat berat, lebih dari 5 tahun baru bisa lulus. Nilai C itu nilai yang paling saya didambakan. Oiya, saya pernah dapat IP 1,8. Pernah juga diminta mengundurkan diri karena dianggap tidak mampu melanjutkan kuliah. Kalau masalah diomongin karena ga lulus-lulus itu sudah makanan sehari-hari. Di sini, saya mulai menemukan jawaban apa yang salah tadi.

Ternyata selama kuliah, yang bahas hitung-hitungan itu cuma di mata kuliah Kalkulus sama Statistik. Di mata kuliah lain, yang diurusi itu pola pikir logis dan ga ada hitungan.

Alhamdulillah, tahun 2016 saya lulus. Lalu saya lanjut kuliah lagi di S2. Masih ambil jurusan yang sama, Pendidikan Matematika. Karena saya pingin makin paham apa sih Matematika itu.

Studi S2 saya terhitung cepat, 1 tahun 8 bulan. Selama S2, saya makin memahami bahwa Math is not about counting, Math is about thinking. Tidak seperti saat S1, di S2 ini pengalaman saya makin meningkat. Makin paham juga tentang ilmu Matematika. Selama S2, saya sering menulis artikel ilmiah tentang Pendidikan Matematika, menjadi pemakalah di seminar internasional, dan sudah punya publikasi nasional dan internasional. Yang pengen baca-baca artikel ilmiah saya, bisa search di Google. Tulis saja Ikhsan Abdul Latif di kolom pencariannya.

2018 saya lulus S2. Saya pernah ditawari jadi dosen di Jawa Timur, tapi ga saya ambil karena beberapa alasan. Akhirnya di tahun 2019, saya dapat pekerjaan pertama saya di tanah Papua. Di sana dipercaya menjadi dosen dan ikut serta mendirikan perguruan tinggi. Tapi, ada beberapa hal prinsip yang membuat saya memutuskan untuk resign. Kerja di Papua Cuma sampai tahun 2020. Alhamdulillah, tahun 2020 dapat kesempatan untuk ngajar di SMAN 1 Nguntoronadi.

Oke Guys. Itulah sedikit pengalaman saya. Buat kalian yang ga bisa beberapa hal, jangan mudah menyerah, kalian pasti bisa kok. Poin utama di tulisan saya ini yaitu Yuk, berani ambil resiko. Tapi juga harus dipikirkan dulu, jangan buru-buru memutuskan sesuatu.

Selamat bermalam minggu.

2 Komentar

  • “Math is not about counting, Math is about thinking.” Great quote, Sir!

    Balas
  • Hi there,

    We run an Instagram growth service, which increases your number of followers both safely and practically.

    – We guarantee to gain you 400-1000+ followers per month.
    – People follow you because they are interested in you, increasing likes, comments and interaction.
    – All actions are made manually by our team. We do not use any ‘bots’.

    The price is just $60 (USD) per month, and we can start immediately.

    If you’d like to see some of our previous work, let me know, and we can discuss it further.

    Kind Regards,
    Christina

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas