SMAN 1 Nguntoronadi

Jangan Menilai Orang dari Penampilannya


Cerpen karya Silvia Wahyu Safitri

Selamat membaca


Mata adalah alat untuk melihat bagi setiap manusia. Dengan mata kita bisa melihat indahnya dunia, dari mata kita juga bisa melihat keburukan seseorang. Tapi terkadang apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita lihat. Yang terlihat buruk belum tentu buruk, sedangkan yang kita lihat baik juga belum tentu yang terbaik. Kadang manusia itu memandang orang dari luarnya saja, padahal belum tentu seperti itu.

Seperti sekarang ini, seorang gadis yang bernama Tiara kelas 10. Dengan penampilan culunnya, dia selalu di bully habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya, hanya karena penampilannya. Meski sering mendapat bully dari teman-temannya, dia selalu sabar dan memaafkan. Padahal tindakannya sudah melebihi batas, namun Tiara masih tetap diam dan tidak melaporkannya ke pihak sekolah.

Hingga beberapa saat kemudian di dalam kelas, salah satu teman yang membullynya menghampiri dan dengan lantang mengatakan, “Hai teman-teman lihatlah, Tiara masih berani bersekolah di sini”.

Tiara hanya menundukkan kepalanya dan bertanya, “Memangnya ada apa dengan aku bersekolah di sini?”. Gadis itu memandang rendah Tiara dan berkata, “Kamu masih bertanya ada apa? Ya jelaslah sekolah ini pasti akan malu punya murid seperti kamu yang berpenampilan culun, apalagi kamu masuk sekolah ini karena beasiswa. Apakah kamu tidak malu bersekolah di sini, lihatlah penampilanmu terlebih dahulu dan lihatlah penampilan kami semua, berbeda jauhkan denganmu? Bagai langit dan bumi”.

Tidak lama kemudian, datanglah kepala sekolah dengan menahan amarah yang sudah tidak bisa ditahan lagi dan dengan tegas mengatakan, “Beginikah perlakuanmu di sekolah? Siapa yang mengajarkanmu berkata seperti itu? Tidakkah kamu tahu dia siapa?” Yang sudah tidak sanggup melihat Tiara dibully terus-terusan.

“Untuk apa Bapak membela Tiara seperti itu, memangnya dia siapa? Dia itu hanya gadis miskin, lihatlah penampilannya” ucapnya dengan kesal. Kepala sekolah itu pun semakin marah, bukannya meminta maaf kepada Tiara malah semakin menjadi, “Apa kamu bilang, hanya karena penampilannya, kamu bisa seenaknya memperlakukannya dengan buruk? Apakah kamu tahu Tiara adalah anak dari pemilik sekolah ini? Bapak sebenarnya ingin menegurmu, tapi apa? Tiara memaafkanmu dengan mudah. Dan sekarang kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini, pergi ke ruang BP untuk mengambil suratnya” ucapannya. Dia pun menangis menyesal karena membuat kesalahan yang mengharuskan nya dikeluarkan dari sekolah, tapi sebelum pergi dia meminta maaf terlebih dahulu kepada Tiara karena telah membullynya.

“Bapak ingin mengatakan kepada kalian semuanya, di dunia ini yang penting adalah menghormati orang lain, siapapun dia, entah anak orang kaya maupun miskin. Kita sama di sekolah ini, jadi jangan diulangi lagi”. Seluruh murid pun tertunduk malu, tanpa berani memandang Kepala Sekolah dan Tiara.

Pelajaran penting dari cerita ini adalah hargailah setiap orang yang kamu temui, walaupun penampilan mereka biasa-biasa saja. Penampilan seseorang belum tentu menggambarkan kedudukan sosialnya.

Mungkin kamu lupa, bahwa di atas langit masih ada langit, jadi jangan pernah menghina orang yang kondisi keuangannya di bawah kamu. Karena suatu saat orang itu bisa saja kedudukannya berada di atas kamu. Setiap orang layak untuk dihargai, terlepas dari kedudukan, suku, agama, dan keadaan ekonominya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas