SMAN 1 Nguntoronadi

Pembelajaran Novel Berbahasa Jawa Menggunakan Model Problem Based Learning

Oleh: TITIS MAYANGSARI, S. Pd.

Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi, karena bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama dalam masyarakat (Depdiknas, 2007: 318). Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dikaitkan dengan pengajaran bahasa di sekolah, berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 271 a Tahun 1994, bahasa Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib di wilayah provinsi Jawa Tengah.

Penguasaan kosakata merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kosakata seseorang dapat berkomunikasi dengan lingkungan, misalnya mengungkapkan perasaan atau mengomunikasikan pesan kepada orang lain. Funk (1971: 1) mengemukakan bahwa kosakata dapat dipakai sebagai ukuran kepandaian seseorang. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa semakin banyak kosakata yang dimiliki seseorang, luas pula jangkauan pengetahuan orang tersebut.

Salah satu materi pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Jawa yang harus dipelajari peserta didik kelas XI semester 1 adalah Novel Berbahasa Jawa. Novel berbahasa Jawa merupakan karya sastra yang saat ini sudah jarang ditemui. Sehingga novel ini perlu untuk diajarakan karena di dalamnya terkadung nilai-nilai yang patut diteladani.

Rendahnya penguasaan kosakata pada peserta didik di SMA N 1 Nguntoronadi, menjadi kendala dalam pembelajaran Bahasa Jawa khususnya materi novel. Di era sekarang ini, anak-anak di lingkungan keluarga banyak yang menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, sehingga mereka tidak mengenal Bahasa daerah yang juga harus dilestarikan. Kosakata yang belum begitu dipahami membuat peserta didik tidak tertarik untuk mempelajari novel berbahasa Jawa.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan belajar novel berbahasa Jawa di kelas XI SMA N 1 Nguntoronadi adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang berbasis masalah (Problem Based Learning). Pemilihan model pembelajaran Problem Based Learning dinilai dapat meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menganalisis unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapakan dapat tercapai. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan keterampilan menganalisis unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel dilaksanakan dengan beberapa langkah, diantaranya yaitu:

Kegiatan Pendahuluan, guru masuk ruang kelas kemudian memberi salam pembuka kepada Peserta didik. Untuk mengawali pembelajaran ada pembiasaan berdoa agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dan materi pelajaran dapat tersampaikan dengan baik pula. Guru mengecek kehadiran peserta didik, dengan melakukan presensi memanggil nama satu per satu dan mencatat kehadiran pada buku daftar hadir. Guru melakukan apersepsi dan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik mengenai pembahasan pada pertemuan sebelumnya berkaitan dengan materi tembang pocung. Langkah selanjutnya dalam kegiatan pendahuluan, guru menjelaskan kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran dalam materi menganalisis unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel berbahasa Jawa.

Kegiatan inti, ada 5 fase dalam pembelajaran dengan model Problem based learning

Fase 1: Mengorientasi peserta didik pada masalah

Guru mengajukan pertanyaan mengenai  publikasi novel bahasa Jawa saat ini. Apakah siswa pernah menemukan novel bahasa Jawa? Bagaimana kosakata dalam novel berbahasa Jawa? (Menanya). Setelah itu Peserta didik mencermati penjelasan guru mengenani teknik atau langkah-langkah dalam menganalisis unsur pembangun dan nilai-nilai pada PPT yang ditampilkan pada proyektor kelas (Mengamati) (TPACK)

Dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak merasa jenuh perlu diberi ice breaking. Pada pembelajaran bahasa Jawa biasanya peserta didik diminta untuk menyanyikan lelagon dolanan agar peserta didik semakin mengenal budaya sendiri dan tidak lupa dengan lelagon dolanan. Lelagon dolanan yang biasa dinyanyikan diantaranya yaitu, cublak-cublak suweng, gundhul-gundhul pacul, suwe ora jamu, jamuran, padhang bulan, dan lain sebagiannya. Peserta didik menyanyikan lelagon dolanan dengan riang dan semangat

Fase 2: Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran

Guru mengarahkan peserta didik untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4 peserta didik pada setiap kelompoknya. Setiap kelompok menganalisis unsur pembangun dan nilai yang terkandung di  dalam novelyang sudah dibagikan bersama dengan LKPD.

Fase 3: Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok

Peserta didik membaca novel berbahasa Jawa. Dilanjutkan Peserta didik menyelesaikan pertanyaan yang ada di dalam LKPD secara kelompok, dengan mencari sumber informasi melalui buku, internet, dan lain-lain. (mencoba, Collaboration). Guru membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan dalam kerja kelompok agar proses diskusi berjalan lancar. Peserta didik menganalisis unsur pembangun dan nilai yang terkandung dalam novel (mengumpulkan  informasi). Selama proses diskusi, guru melakukan penilaian sikap kepada peserta didik

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil

Peserta didik menyusun laporan hasil kerja kelompoknya. Salah satu dari peserta didik dalam kelompok tersebut mengunggah pada link google form yang sudah disediakan (TPACK). Kelompok yang ditunjuk mempresentasikan secara lisan laporan kelompoknya di depan kelas (mengkomunikasikan).

Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Peserta didik menanggapi hasil laporan yang disampaikan  kelompok teman, dan Guru mengevaluasi hasil laporan yang disampaikan peserta didik.

Kegiatan Penutup, peserta didik melakukan evaluasi terhadap materi yang dipelajari melalui google form, dan refleksi tentang hasil pembelajaran pada pertemuan hari ini. Peserta didik diminta untuk menyimpulkan hasil pembelajaran pada hari ini. Guru menjelaskan mengenai materi yang akan datang. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan salam penutup dan berdoa Bersama

Pembelajaran materi novel dengan model Problem Based Learning (PBL) dapat membantu siswa dalam belajar menganalisis unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel berbahasa Jawa. Peserta didik dapat melakukan diskusi dan tanya jawab dengan teman satu kelompoknya ketika mengalami kendala dalam mengerjakan LKPD. Model pembelajaran problem Based Learning (PBL) efektif meningkatkan ketrampilan peserta didik dalam menganalisis unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel berbahasa Jawa pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Peserta didik merasa senang dengan model dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran. Karena dengan model pembelajaran PBL siswa dapat menemukan sendiri pengetahuannya dan lebih tertarik dengan pembelajaran Bahasa Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas