SMAN 1 Nguntoronadi

Pendidikan di Masa Pandemi


Esai berjudul Pendidikan di Masa Pandemi ini ditulis oleh Nur Karniati Kelas XI MIPA 2.

Selamat membaca.


Sejak awal kemunculan virus Corona di beberapa negara bahkan hampir semua menerapkan sistem lockdown, salah satunya adalah negara kita. Kemunculan virus Corona berdampak pada kesehatan, tidak hanya kesehatan tetapi juga penurunan pendapatan ekonomi, bahkan dalam bidang pendidikan ikut terkena dampak dari pandemi covid 19 ini.

Sejak diberlakukannya lockdown di Indonesia, semua sekolah ditutup untuk mengurangi dan menghindari terkena covid 19 yang semakin lama semakin banyak orang yang terkena covid 19. Akibat dari ditutupnya sekolah dan belajar menggunakan sistem online banyak anak sekolah, mahasiswa, maupun orang tua yang merasakan kesulitan. Banyak pihak yang terpaksa beradaptasi dengan kondisi pembelajaran dengan sistem online, terutama bagi orang tua yang anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, orang tua dipaksa mengajari anak mereka dengan lebih intensif bahkan bisa dikatakan peran orang menjadi lebih vital karena anak-anak mereka tidak bisa belajar tatap muka dan bertemu dengan guru di sekolah, dalam hal ini bisa dikatakan orang tualah yang menjadi guru bagi anaknya di masa pandemi seperti ini. Efek lain dari pembelajaran online atau yang dikenal sebagai pembelajaran jarak jauh ini banyak anak sekolah yang merasa stres bahkan ada juga orang tua yang ikut merasakan stres karena mengajari anak mereka, ini membuktikan bagaimana pentingnya peran guru dalam dunia pendidikan.

Semua pelajar baik mahasiswa maupun siswa siswi dari TK sampai SMA melakukan pembelajaran daring secara online, bisa menggunakan handphone ataupun laptop. Pembelajaran daring menjadi tantangan bagi kita, tidak hanya di dunia perekonomian tetapi juga dunia pendidikan. Kita harus bisa membiasakan diri dengan pembelajaran menggunakan sistem yang ada.

Pada saat pembelajaran daring minat anak dalam belajar pun ikut menurun, menurut saya sendiri  pembelajaran menggunakan handphone atau laptop tidak efektif, karena banyak materi yang tidak bisa dipahami bila tidak dijelaskan secara langsung. Tidak hanya itu tetapi juga faktor lain yang membuat pelajar menjadi malas seperti kendala sinyal, kouta, dan banyaknya tugas yang diberikan apabila murid tidak rajin mengerjakan tugas.

Saat belajar mandiri tidak ada yang mengawasi seperti saat ada di sekolah padahal pengawasan saat pemebelajaran itu sangat dibutuhkan. Saat pengawasan dari guru murid bisa juga bertanya tentang materi yang tidak dimengerti, berbeda saat daring, walaupun bisa bertanya mengunakan media sosial tetapi tidak seperti saat bertatap muka secara langsung. Kita sebagai pelajar harus bisa terbiasa dan harus ikut aktif dalam pembelajaran daring ini, karena pada saat pandemi seperti ini kita harus pandai pandai membagi waktu. Sisi lain dari pandemi ini kita dapat mengambil hikmah dan sebagai manusia kita dipaksa untuk beradaptasi dalam situasi apapun, untuk bidang pendidikan secara tidak langsung kita dapat menjadi lebih paham dan menguasai pembelajaran yang berbasis IT.

Satu Komentar

  • Pemikiran seperti inilah yang mendasari sie. kurikulum membuat sistem pembelajaran yang sekarang ini sedang dilaksanakan.
    PTM virtual dapat mengganti Pembelajaran Tatap Muka. Seberapapun peserta yang sudi mengikuti, ini adalah layanan sekolah bagi para peserta didik yg mempunyai dedikasi terhadap pendidikannya.
    #tulisanyangbagus

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas