SMAN 1 Nguntoronadi

Peran dan Pantas

Jalan hidup manusia tidaklah sama, setiap manusia punya fase kehidupan yang berbeda dengan manusia lainnya. Mungkin kita pernah mendengar perkataan seperti ini, “Kamu kok belum menikah sih di usia seperti ini?” atau perkataan seperti ini, “Kamu kuliah lama sekali, dari dulu enggak lulus?” sebenarnya perkataan atau pertanyaan itu tadi terdengar remeh, akan tetapi untuk orang yang agak sensitif pertanyaan tersebut bisa-bisa membuat mood atau suasana hati orang yang ditanya menjadi berantakan.

Kehidupan manusia memang tidak bisa terlepas dari  interaksi sosial antar sesama manusia dan tak jarang juga akan menimbulkan sedikit problema akan hal itu. Sebagai contoh kadang di antara kita tanpa disadari menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang kapan lulus, kapan nikah, atau kapan punya anak kepada orang lain atau justru malah kita yang mendapatkan pertanyaan tersebut. Bagi kebanyakan manusia pertanyaan “kapan nikah?” terkadang menjadi pertanyaan yang akan sulit dijawab dan hanya bisa dijawab, “doakan aja” hanya itu jawaban terbaik yang bisa diberikan. Bahkan seringkali ada sebuah pernyataan setelah pertanyaan tersebut pernyataan yang menyuruh kita untuk segera menikah dengan alasan kalau menikah di usia seperti ini, jika mempunyai anak nanti kita tidak terlalu tua jika punya momongan nantinya. Padahal pernikahan itu bukan hanya tentang memiliki keturunan, baiklah jika alasan kita segera menikah agar disaat kita punya momongan saat usia kita tidak terlalu tua, memangnya kita bisa menjamin usia kita bisa sampai ke tahap itu bagaimana jika Tuhan memanggil kita sebelum sampai ke tahap itu? Manusia hanya berencana dan Tuhanlah yang menentukan jalan hidup kita. 

Sebenarnya dalam menjalani hidup ini Tuhan selalu memberikan apa yang pantas untuk kita. Di kehidupan ini kita sudah diberikan peran masing-masing dan apakah kita pantas atau belum untuk menjalaninya Tuhan lebih tahu dibandingkan kita. Jadi pertanyaan tentang kapan lulus, kapan nikah, dan kapan punya anak bisa dijawab dengan pantaskah kita menjalani itu semua. Mari kita sederhanakan saja misalnya seperti ini,

Belum pantas lulus?

Berati kita memang belum pantas menyandang gelar. Baik lulus dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi.

Belum menikah?

Berarti kita memang belum pantas menjadi pasangan. Kita harus muhasabah diri dan terus memperbaiki diri agar segera dipantaskan.

Belum punya anak?

Berarti kita belum pantas menjadi orang tua.

Begitulah katanya, benarkah seperti itu?

Peran dan pantas memang saling berkaitan erat. Sebagai manusia sayangnya seringkali kita hanya melihat pada sisi apa yang belum kita dapatkan dan kita bahkan hampir tidak pernah berfokus pada apa yang sedang kita perankan. Tugas kita sebagai manusia harusnya memainkan peran yang diberikan kepada kita dengan semaksimal mungkin dan sesuai dengan porsinya. Apapun yang kita lakukan jika maksimal dan sesuai dengan porsinya akan memberikan dampak yang baik untuk proses kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia itu harus terus berproses dan pilihan ada pada kita, apakah berproses menuju kebaikan atau malah sebaliknya?

Sekarang mari kita lihat dari sisi yang berbeda, kita ibaratkan seperti koin yang memiliki dua sisi.

Belum lulus?

Mungkin sekolah atau kampus masih membutuhkanmu. Sebagai seorang siswa atau mahasiswa peran kita sangat dibutuhkan untuk kemajuan sekolah atau kampus.

Belum menikah?

Mungkin kesendirianmu saat ini lebih bermanfaat. Kamu bisa lebih peka terhadap keadaan disekitar kamu, syukur-syukur kamu bisa melakukan suatu hal yang bisa bermanfaat untuk sekitarmu. Ingat di manapun kita berada tetaplah melakukan kebaikan.

Belum punya anak?

Mungkin anak-anak ideologismu masih perlu pendampingan. Sebagai contoh jika kita berprofesi sebagai pendidik tentunya sudah menganggap siswa kita sebagai anak sendiri, kemungkinan kamu masih diperlukan untuk membimbing dan mendampingi anak-anak di sekolah kamu berada.

Lantas bagaimana cara mengukur pantas?

Kita bisa tanyakan pada diri kita sendiri. Sebab selain Tuhan, jika kita mau jujur, kitalah yang paling tahu kadar kepantasan diri. Bukan orang lain sekalipun itu keluarga, sahabat, bahkan pasangan kita.

Dalam hal ini kita bisa saja berujar “ Sebenarnya kalau mau, saya juga bisa.” Akan tetapi jika menurut Tuhan kamu belum pantas mendapatkan peran itu, banyaknya gunung yang kamu daki dan banyaknya lautan kamu seberangi pun, tidak akan bisa menjadi peranmu. Sebaliknya, meski kamu merendah, “ Saya tidak pantas dapatkan ini.” Tapi ketika dalam hati meyakini bisa melaluinya dan terlebih Tuhan sudah mempercayakannya maka kamu akan tetap mendapatkan peranmu. Mengutip kalimat dari Umar bin Khattab.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Sebagai manusia tugas kita hanya menjalankan peran dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan porsinya.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas