SMAN 1 Nguntoronadi

Untukmu – Part 2


Cerpen berjudul Untukmu – Part 2 ini merupakan lanjutan dari cerpen Untukmu sebelumnya yang ditulis oleh Isnadiah Youwanda Wardani Kelas XII MIPA.

Selamat membaca.


Kita menjadi sering bertemu setelah kejadian kantin itu. Dan Sam makin menjadi-jadi setelah itu pula. Minggu berikutnya, dia sudah mengalami kemajuan dengan membalik piring batagorku. Minggu berikutnya lagi, dia makin lihai dengan menaruh tissu yang diremat ke gelas minumku. Dan begitu seterusnya. Kau pun juga.

Minggu di mana Sam membalik piring batagorku, kau membawa buku skors dan pulpen ke hadapan Sam. Bertambah seminggu lagi, kau bawa Pak Junaedi beserta cenayang sekolah ㅡ Ibu Guru BP kesayangan kita, Ibu Yati dan buku skorsmu. Kendati demikian, Sam mungkin tak memiliki urat kapok sehingga dirinya tak memedulikan nilai skorsnya yang sudah mulai menyentuh angka 60, empat puluh lagi menuju drop-out kalu dia masih nekat membuat onar.

“Aku juga nggak habis pikir, otaknya itu terbuat dari apa, sih?” katamu suatu saat saat kita makan bersama di kantin. Aku bukanlah tipikal orang yang mudah terbakar gosip, jadi aku menggeleng saja. “Kau tahu, di kelas dia itu nggak segitunya, Dam. Dia bahkan terkesan humoris dan petakilan. Nggak tahu kenapa kalau ketemu kamu itu bawaannya kepengin nyaplok aja itu bocah,”ㅡ lalu kau melahap makananmu.

“Biarkan saja asal dia nggak bawa golok apa gorok, Fir. Aku juga nggak kenapa-kenapa, kok,” jawabku seadanya, lalu makan lagi. Namun, kau malah mengetuk kepalaku dengan sendokmu.

Aku hendak menangkisnya, tapi sudah keburu sampai di kepala. Tak ada hal lain yang dapat kukatakan selain: “Idih! Jijik aku!”

“Ternyata, otakmu juga bemasalah, Dam. Sini kubersihin rambutmu!” Aku hendak menolak tapi kau seperti supersonik. Sekelebat saja tanganmu sudah sampai di kepalaku.

Dug, dug, dug. Bukan suara bedug, tapi suara jantungku yang mengungsi ke seluruh bagian di tubuhku. Sial! Aku begini lagi!

“Kamu memang sebegitu nggak pedulinya, ya, sama penampilan. Padahal rambutmu bagus, tahu, kalau dimodel-model kayak punyanya V,” katamu sambil masih sibuk dengan pekerjaanmu. Kau memilin helai demi helai rambutku dan mengelapnya dengan tissu, lalu menatanya sesukamu.

“Udah, ah, Fir! Nggak enak dilihatin orang!” bantahku, namun masih diam tak bergerak.

“Dah, selesai!” kau kembali duduk di tempatmu dengan nyaman, matamu masih menatapku lama. “Ya, Tuhan! Sedikit lebih putih lagi kulitmu, kau hampir mirip V, tahu!” kau bersorak tak jelas sambil bertepuk tangan kegirangan. Aku jadi mulai mempertanyakan apakah kau benar-benar anak SMA kelas tiga dengan kelakuanmu yang seperti itu. Aku hanya tersenyum timpang menanggapimu dan kelakuan tak jelasmu itu.

“Besok, kau harus pakai pomade!” Kau menatapku lagi. Jantungku berdegup kencang lagi.

Sedetik kemudian … kau menangkupkan telapak tanganmu ke pipiku. Aku terpaku. Menatap kau yang tersenyum dan menenggelamkan matamu di sana. Sambil masih dalam keadaan seperti ini, aku segera menyadari hal lain ….

Astaga, aku pengin pipis!

Aku sudah tidak tahan, semenit lagi kurasa aku akan pingsan jika tidak pergi. “A-aku … nggak ada waktu buat … komet-komet itu … biar kayak s-siapa tadi, si Sapi-Sapi yang namanya terdengar seperti bayaran itu! P-pokoknya, aku nggak mau!” bantahku sembari menepis tanganmu dari pipiku. Lalu, aku pun berdiri dan berbalik badan untuk pergi ke kamar mandi. Jantungku masih tidak keruan detaknya sampai kini. Dasar Safir kampret!

Saat langkahku baru mencapai lima atau enam, sepasang mata sudah mengunciku sebagai target mangsa. Sialnya, aku malah bertemu pandang dengannya dalam segaris lurus tanpa bergerak sedikit pun. Sepasang mata itu kuyakini telah menatapku lebih dari ini. Dan untuk sepersekian detik, mereka menilik ke balik bahuku, lalu kembali mengunciku lagi.

Kukira mereka akan menerkamku bersama sang empunya. Namun tidak, mereka pergi bersamaan saat mulutku setengah terbuka untuk memanggil namanya.

Namun Sam tak dapat kutahan dan pergi begitu saja.

*;*;*

Tak ada kejadian penting di sepanjang Februari sampai Maret, jadi kita lompat saja sampai bulan April, kira-kira minggu ketiga di bulan itu. Dua bulan penuh aku tidak menerima keonaran Sam, jadi kurasa itu adalah pertanda baik. Namu tidak. Selama dua bulan itu dia menyusun rencana untuk menuduhku telah mencuri kaus olahraganya. Hal itu baru kuketahui beberapa hari setelah kejadiannya terjadi.

Tak tahu kenapa, saat aku hendak mengambil kertas fotokopian di lokerku, lokerku sudah berjejalan hingga aku sempat mengira aku salah membuka loker. Ternyata tidak, itu memang lokerku, yang entah kenapa telah kemasukan kaus olahraga Sam dan celananya sekalian. Bersamaan dengan itu, Dani ㅡ temannya Sam yang kebetulan juga kenalanku, lewat dan berteriak kalau dia menemukan kaus olahraga milik kawannya itu. Semua orang yang kebetulan berada di sekitar kami berhenti melakukan kegiatannya dan mengamati kami. “Kamu yang nyuri, ya!?”

Aku terdiam dan menatap tak percaya pada Dani. “Ngaku dong!”

“A-aku, aku nggak ㅡ”

“Halah, bohong! Ini udah terbukti!” Dan kau tahu, kejadiannya sama dengan bagian awal cerita ini. Setelah itu aku digelandang ke kantin yang sudah kosong. Aku tidak dipukuli, tapi entah kenapa aku terduduk kala itu. Aku dimarahi habis-habisan tanpa tahu-menahu dari mana asalnya kaus itu bisa terjejal di lokerku.

Aku hampir menangis. Berharap juga kalau kau akan datang, tapi tidak. Kau tidak ada sama sekali untuk menolongku. Bahkan berhari-hari setelah kabar aku yang dilabrak Sam menyebar di kalangan para siswi dan kebohongan Sam atas tuduhanku terkuak, kau juga tak kunjung menemuiku. Bahkan, saat kita tak sengaja saling bertatap muka secara di gerbang, kau memutuskan untuk berpaling dan terus berjalan.

Bulan Mei, tanggal 13. Pengumuman atas hasil ujian nasional keluar. Aku mendapatkan peringkat ke sepuluh dalam satu angkatan, dan kau mendapat peringkat ke tiga dari angkatanmu. Kau berseri-seri sekali dan aku berharap aku dapat menemuimu dan mengucapkan selamat atas pencapaianmu. Namun kau tak lekang dari lingkupan kawan-kawanmu yang terus menyelubungimu, membanjirkan ucapan selamat. Aku akhirnya mencoba menerobos orang-orang, dan dirimu tinggal lima kaki lagi.

“Safir!”

Itu bukan suaraku, namun milik orang lain dari balik punggungmu. Kau pun menolehnya dan orang itu adalah ….

Sam.

Kalian bertatapan sesaat sebelum akhirnya ….

Kau menghambur ke pelukannya yang juga memelukmu. Dan aku … tak dapat melakukan hal lain selain mematung tepat saat tanganku hendak menyentuh bahumu.

Sam sepertinya sadar akan keberadaanku, dia melihatku juga. Kukira dia akan menyalak atau semacamnya, namun dia tersenyum hangat dan memberitahumu kalau aku di sini. Kau pun berbalik, lalu tersenyum.

“Ah! Adam!” serumu saat itu. “Ada apa?”

“I-itu, kalian ….”

“Ya. Aku sudah berpacaran dengan Sam!”

Kerongkonganku kosong. Rasanya sesuatu di sana telah jatuh atau bagaimana hingga rasanya hampa sekali.

“Ah, pacarmu, ya! Kalau begitu, selamat!” kataku spontan, kususulkan senyum getir setelahnya. Kau bingung, aku juga. Kau pun lalu menepuk bahuku.

“Untuk apa, Dam?”

“I-itu, u-untuk ….”

Aku tadi ingin menyelamatimu atas peringkat yang kaudapat. Namun, kau sepertinya mendapat kebahagiaan lain. Jadi sekalian saja, pikirku. “I-itu, selamat atas hubunganmu dengan Sam! Dan juga atas peringkat tiganya!” Kalian ㅡ kau dan Sam, tersenyum sambil Sam merangkul bahumu, dan kalian bertatapan lagi. Aku menjadi merasa canggung sendiri, jadi aku berpamitan pada kalian dan menyampaikan pada kalian semoga kalian bersenang-senang dengan pestanya.

Dan tanpa berlama-lama lagi, aku pun pergi.

*;*;*

Bertahun-tahun sejak hari kelulusan, aku tidak pernah bertemu denganmu lagi, dan kabar darimu juga jarang kudengar walau tempat kita tinggal hanya terpaut beberapa kompleks. Hingga satu waktu, kudengar bahwa Sam telah melamarmu dan kalian berencana untuk menikah akhir tahun ini. Sekadar informasi saja, aku turut bahagia.

Maaf aku tak dapat mendatangi pesta itu walau memang undangannya sudah sampai padaku. Di sana, kau masih sangat cantik dengan rambut panjang barumu, dan Sam … dia luar biasa tampan dengan balutan seragam pilot itu. Kalian sungguh luar biasa serasi bila bersama.

Kau pun kelak akan bertanya-tanya mengapa aku menyempatkan diri menulis semua ini semalam. Aku hanya berharap kalau suatu saat nanti kau dapat membacanya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya tidak usah, deh. Karena ini surat wasiat. Aku tak ingin kau membacanya, karena kisah ini hanya boleh kaubaca bila aku sudah meninggal.

Hanya untuk catatan kaki saja: Aku menulis ini karena aku mencintaimu. Karena kata yang belum tersampaikan, karena hati tak tak tertambat. Aku menulis ini untuk kaubaca. Untuk kau sadari, bahwa kasihku tak kenal ikatan cinta. Satu lagi, saat menjalani kehidupan, kau hanya perlu memegang teguh satu hal: jangan terlalu bermimpi! Maka kau akan selalu bahagia di sepanjang hidupmu.

Da-dah, Safir! Aku pergi dulu, ya!

*;*;*

Aku masih saja terisak bahkan setelah membacanya dua kali. Sambil berlatar suara shalawat dari orang-orang, kupeluk Sam yang berbalut baju hitam-hitam, seperti semua orang di rumah duka. Aku terisak-isak di pelukannya, Sam sepertinya juga tak kuasa menahan tangis dan juga turut menangis bersamaku. Foto Adam yang tergantung di atas televisi besar itu, … oh, Adam! Andai aku tahu lebih cepat!

Maafkan aku, Dam. Dan juga terima kasih! Berbahagialah kamu di sana! Jangan hanya jadikan ini sebagai catatan kaki: Aku juga mencintaimu!

Masih dalam keadaan berkabung, kubisikkan pada diriku, dan barangkali pada Adam juga, sebuah puisi yang kurenungkan baru saja:

Cukup pandang
Cukup pahami
Cukup lantang
Kau mencintai


Kasihmu bukannnya dalam
Hanya keseringan
Kasihmu tak memberi salam
Namun beban


Tak ada yang sudi merindu bila kelak tak jumpa
Kau hanya bodoh
Aku yang ceroboh


Kasih itu tak perlu tersampaikan
Tak perlu memiliki
Tak perlu ikatan
Tak perlu bukti


Kasih itu milikmu
Kasih itu kamu
Jika dirimu dimiliki orang lain
Lantas, Kepada siapa seharusnya jantungmu berdetak?


Kepada angin?
Kepada air?
Kepada orang lain?
Kepada syair?


Engkau cukup pandai ‘tuk memahami
Einstein ‘kan berduka bila kau lalai
Berdamailah dengan hati
Kasih itu tak payah terbuai

*;*;*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas