SMAN 1 Nguntoronadi

Untukmu


Cerpen berjudul Untukmu ini ditulis oleh Isnadiah Youwanda Wardani Kelas XII MIPA.

Selamat membaca.


Aku bingung harus memulainya dari mana. Seingatku, Jostein Gaarder memulai ‘The Puppeteer’ dari tengah. Jadi, kuputuskan saja aku menulisnya dari tengah pula, agar keren. Jangan kausangka kisahku ini akan berakhir sama dengan buku yang selalu kau gadang-gadang sebagai buku keramat padaku karena mengandung filosofi yang dapat mengelupaskan batok kepala itu. Aku tak akan besorak untukmu ataupun untuk yang lain, karena nantinya ….

*;*;*

Kutatap wajahnya yang tertutup separuh poninya. Dengkusan demi dengkusan terus keluar dari mulut yang beberapa waktu lalu menyumpahiku dengan kata hewan. Di pelipisnya, mengucur deras berbulir-bulir keringat yang juga membasahi rambutnya yang turun lewat sebelah telinganya. Dia masih menatapku garang kala itu. “Aku tak pernah habis pikir. Dari mana kaudapatkan kaus ini, hah, selain dari lokerku?!” ucap anak lelaki yang tingginya sekepala lebih tinggi dariku. Kawan-kawannya ikut melihatku sinis, seakan akulah si penyebab kekacauan. Padahal, Sam tengil itulah pelakunya. Kau ingat dia, ‘kan? Tentu saja kau pasti ingat. Aku berani bertaruh dia sedang di sebelahmu ketika kau membaca ini.

Kusadari kalau aku ketakutan. Namun aku tak dapat mengelak dari melihatnya bersama puluhan anak lain yang berkerumun. Bagiku, menunduk adalah membunuh diriku dengan cepat, karena kemungkinan Sam memukul tengkukku empat kali lebih besar daripada aku mendongak, namun di sisi lain, mendongak juga membunuhku dengan perlahan. Secara diri, bulu kuduk, dan nyawaku terus bertumbangan silih berganti seiring arah tatapan mereka yang tak pindah-pindah, yang tak lain adalah aku.

Deru napas itu makin teratur. Dari postur yang ia buat sekarang, aku mengira dia akan mengatakan epilognya. “Kuperingatkan sekali lagi, kalau kau masih ingin mendengar kabar nilai ujianmu, tak bosan-bosannya kuingatkan padamu. Jangan. Buat. Masalah. Denganku. Mengerti kau?”

Aku mengangguk.

“I … iya. Maaf,” ucapku tanpa aku harus repot mengatakan hal lain. Dengan itu, atau malah lebih, dan hanya dengan itu, Sam dan kawanan setannya pergi dari kantin. Ketika tubuhnya sudah tertelan tembok di seberang, puluhan anak tadi ikutan pergi dan tanpa memikirkanku yang masih gemetaran di bawah meja, menimbulkan sedikit suara getar yang mirip pukulan drum.

Lima menit berlalu. Dan kau tak ada di sana. Setelah kupastikan kalau semua orang tak akan kembali lagi, akhirnya aku dapat ingat caranya bernapas. “Ya, Tuhan,” desahku. “Pantatku panas sekali.”

Kuputuskan untuk pergi dari sana ㅡ dari kantin. Karena tak ingin timbulkan kekacauan lagi, aku memilih berputar mengitari gedung timur untuk sampai ke mulut kelasku. Padahal, hanya butuh dua puluh meter lagi jalan ke depan, ruangan beserta penghuni markas besar kelas XII.1 SAINS itu sudah terlihat. Ingin mengatai aku bodoh?

Silakan jadi Sam yang kedua. Maka dengan serta merta ku-black-list namamu di atas kertas ini.

Aha! Tidak, tidak, aku hanya bercanda.

Aku yakin kau selalu mengetahui kalau aku memiliki kebiasaan ini ㅡ berlama-lama di kantin. Namun aku ragu kau mengetahui alasannya. Toh nanti kau akan tahu juga. Pokoknya, ini ada sangkut-pautnya sama dirimu. Nanti akan kuceritakan kalau ada waktu.

Empat bulan sebelum kejadian itu, kira-kira minggu pertama bulan Desember, kita bertemu pertama kali di taman sekolah. Setelah hampir tiga tahun lamanya kita dikandangkan di sekolah yang sama, kita bertemu untuk petama kalinya. Kau di sana memakai hoodie putih, dengan bawahan rok putih, bersepatu hitam, dan rambut pendek yang kaupotong bob. Kau tiba-tiba menghampiriku sambil menyodorkan satu kap es jus jeruk padaku. Kuhargai perbuatannmu karena memang bulan Desember ini sedang sakit, hingga cuacanya tak cukup lazim untuk sekadar disebut bulan Desember. Selain itu, aku juga tak ada pilihan lain selain menerimanya karena kau terus menyodorkannya bahkan setelah lima kali kutolak. Kurasa, setelah ini aku benar-benar harus mendengarkan langsung darimu alasan mengapa kau sangat memaksaku untuk menerimanya. Namun sayangnya sudah tak bisa, waktuku sudah habis.

Kurasa begitulah, pertemuan pertama kita. Tak banyak yang kita bicarakan hari itu. Aku pun segera pergi sesaat setelah kutenggak minuman dingin itu dan aku hanya mengatakan, “Makasih.”

Lalu aku pergi.

*;*;*

Bulan Januari kita mulai disibukkan dengan persiapan-persiapan ujian, dan kita belum akrab juga. Selain karena sifat pemaluku, kita berbeda jurusan. Kau juga sangat mentereng di antara kawan-kawanmu, dan itu sangat menggangguku pada awalnya. Jadi, kuputuskan saja kalau aku menganggapmu tak pernah bertegur sapa denganku dan kita tak saling kenal, secara harfiah ㅡ dan semua akan kembali pada jalurnya.

Namun, Sam mengacaukannya. Dia mulai menggangguku mulai bulan ini hingga hari kelulusan.

Suatu hari, dia menghampiriku yang sedang menyantap makan siang. Dia dengan tiba-tiba duduk di meja tempatku makan dan memukulkan tangannya ke sana. Karena aku masih merupakan manusia normal, aku tersentak tanpa harus disuruh. Sebentar kutoleh Sam dan menanyakan apa ada sesuatu yang membawanya kepadaku. Karena kami belum saling kenal, kurasa dia tak akan
menanyakan hal yang tidak penting, jadi, aku tak masalah. “Ada apa?”

Dia tak mengatakan apapun kecuali, “Kamu Adam Saifuddin, ya?”

Kukatakan, “Ya.” ㅡ Aku memundurkan kursiku, menatapnya dengan jelas dan melanjutkan, “kenapa?”

Kulihat otot rahangnya mengeras, wajahnya merah sampai telinga dan kepalannya menegang. Jika saja matanya ikutan andil ㅡ maksudku paling tidak berubah warna menjadi kemerahan, aku bersumpah dia sudah kelihatan seperti banteng kerempeng.

“Aku nggak suka buat masalah dengan orang asing. Tapi sepertinya kamu kukecualikan,”ㅡ dia berdiri, mendekatkan diri padaku. “Aku sungguh kasihan padamu.”

Dia mundur dan menggebrak meja, keadaan di kantin menjadi panas. Dia melakukannya lagi dan dapat serta-merta membawa seluruh pandangan pada kami. Aku tak dapat berbicara apapun karena tak memahami situasinya, kurasa Sam juga.

“Mari kita bicarakan baik-baik ㅡ” Belum sampai aku menyelesaikannya, kau datang dari antah-berantah dan berdeham dari arah belakangku. Suasana makin tegang ketika dirimu memutuskan untuk menghampiri kami. Dengan keadaan sehening ini, derap pantofel yang kaukenakan terketuk keras dengan lantai. Tiga detik kemudian, kantin menjadi senyap lagi.

“Pembully-an jelas dilarang di sekolah ini ㅡ bahkan di mana pun. Minta maaflah padanya dan lupakan semua tadi,” katamu. Kau menatap Sam yang juga menatapmu, sekilas setelahnya, kau menatapku.

Aku terhisap ke dalam matamu. Sedetik yang mencengangkan itu kugunakan untuk mengembalikan akal sehat dan untuk mengatur detak jantung yang entah karena apa berdegup keras hingga rasanya aku dapat mendengarnya. Karena tak ingin merasa canggung, aku menjatuhkan tatapanku dan beralih melihat pantofelmu.

“Sam, minta maaflah. Atau aku akan mencantumkan namamu di atas buku skors bulan ini. Ingat, kau masih punya naskah ujian nasional untuk dikerjakan.” Sam terlihat tak menyenangi saranmu, atau barangkali adalah wejanganmu. Sesaat setelah itu, dia beranjak dan pergi meninggalkan kantin. Lalu keadaan menjadi membaik kecuali desis-desis gunjing yang bocor lewat bibir orang-orang.

Kau tak segera pergi dari tempatmu, namun tidak berlama-lama juga. Kau hendak pergi, namun kutahan. “Makasih,” kataku. Lalu kau menjawab, “Bisakah kau katakan hal lain selain ‘makasih’? Kurasa itu sudah terjahit di lidahmu, ya. Ha ha!”ㅡ kau tergelak, aku terkekeh. “Aku Safir, anak XII.2-IPS. Senang bertemu denganmu lagi!”

Lalu kau tersenyum dan mengulurkan tangan. Kulihat tanganmu sebentar sebelum akhirnya aku menyambutnya. “Adam, anak XII.1 SAINS, senang juga bertemu lagi!”

Setelah itu, kau benar-benar pergi.

*;*;*

Bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas